TIMES BANTUL, BANTUL – Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul mencatat jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) pada tahun 2025 mencapai 576 kasus dengan lima orang meninggal dunia. Jumlah tersebut menurun dibandingkan tahun 2024 yang mencatat 672 kasus dengan empat kematian.
Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinkes Bantul, Samsu Aryanto,mengatakan meski terjadi penurunan jumlah kasus, peningkatan angka kematian menjadi perhatian serius.
“Pada tahun 2025 jumlah kasus DBD tercatat 576 kasus, namun angka kematian mencapai lima orang. Ini menjadi evaluasi bersama agar penanganan semakin optimal,” ujarnya, Selasa (20/1/2026)
Menurut Samsu, Dinas Kesehatan Bantul telah melakukan berbagai upaya penanggulangan DBD, di antaranya fogging fokus di wilayah dengan kasus tinggi serta penyediaan rapid diagnostic test (RDT) NS1 combo untuk deteksi dini penyakit DBD.
Selain itu, penguatan penanganan dan layanan DBD juga dilakukan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Upaya promotif dan preventif di masyarakat terus digencarkan melalui edukasi dan peningkatan kesadaran akan pentingnya pemberantasan sarang nyamuk.
Dinas Kesehatan Bantul juga memperkuat jejaring lintas program dan lintas sektor melalui Gerakan Serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk (Gertak PSN) dan pemberdayaan juru pemantau jentik (jumantik).
“Kami juga meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan serta menerbitkan surat edaran kewaspadaan DBD kepada OPD, fasilitas kesehatan, dan pemerintah kalurahan,” kata Samsu. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Kasus DBD di Bantul Turun, Namun Angka Kematian Meningkat pada 2025
| Pewarta | : Soni Haryono |
| Editor | : Deasy Mayasari |