DPUPKP Sleman Dorong Bangunan Hijau Tak Sekadar Konsep demi Tangkal Suhu Ekstrem
Kepala DPUPKP Kabupaten Sleman, Sukarmin (FOTO: Dok. TIMES Indonesia)

DPUPKP Sleman Dorong Bangunan Hijau Tak Sekadar Konsep demi Tangkal Suhu Ekstrem

Konsep green building dinilai penting untuk menciptakan bangunan yang lebih hemat energi, efisien menggunakan sumber daya, sekaligus mengurangi dampak terhadap lingkungan.

TIMES Bantul,Selasa 15 September 2026, 07:45 WIB
71
A
A. Tulung

SLEMANPemerintah Kabupaten Sleman (Pemkab Sleman) mulai memperkuat penerapan konsep green building atau bangunan hijau sebagai bagian dari upaya menghadapi tantangan perubahan iklim dan meningkatnya suhu udara.

Konsep tersebut dinilai penting untuk menciptakan bangunan yang lebih hemat energi, efisien menggunakan sumber daya, sekaligus mengurangi dampak terhadap lingkungan.

Komitmen itu salah satunya diwujudkan melalui rangkaian Indonesia Green Building Festival (IGBF) 2026 yang digelar sepanjang September.

Kegiatan tersebut menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, akademisi, arsitek, kontraktor, hingga masyarakat untuk memperluas penerapan prinsip bangunan berkelanjutan.

Di Sleman, salah satu agenda IGBF yakni Seminar Green Festival bertajuk 'Peran GBCI dalam Mensukseskan Praktik Bangunan Hijau di Indonesia'.

Kegiatan tersebut menghadirkan Ignesjz Kemalawarta dan Desiderius Viby Indrayana sebagai narasumber.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kabupaten Sleman Sukarmin mengatakan, penerapan bangunan hijau perlu didorong agar tidak berhenti sebatas wacana.

“Bangunan hijau itu sudah mandatoris. Harus dimulai ke depan untuk semua bangunan pemerintah maupun rumah tinggal,” kata Sukarmin, Selasa (15/6/2026)

Menurutnya, kewajiban penerapan bangunan hijau telah memiliki landasan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2021. Pemkab Sleman pun akan mulai memperkuat penerapannya, khususnya pada pembangunan gedung milik pemerintah.

Efisiensi Energi Jadi Perhatian

Sukarmin menjelaskan, efisiensi energi menjadi salah satu prinsip penting dalam konsep bangunan hijau.

Penerapannya dapat dimulai sejak tahap desain dengan mengoptimalkan bukaan, jendela, pencahayaan, dan sirkulasi udara alami.

Desain tersebut dapat mengurangi ketergantungan terhadap lampu dan pendingin ruangan.

Selain itu, aspek pengelolaan limbah dan pemilihan material bangunan juga menjadi perhatian agar pembangunan tidak menimbulkan beban lingkungan yang lebih besar.

Penggunaan material dengan jejak karbon lebih rendah serta pemanfaatan energi terbarukan, termasuk panel surya, juga menjadi bagian dari upaya tersebut.

Namun, penerapan prinsip bangunan hijau pada bangunan yang sudah ada masih menghadapi sejumlah kendala. Sukarmin memperkirakan implementasinya saat ini baru berada pada kisaran 20 hingga 30 persen.

“Realisasi bangunan hijau ini memang beberapa sudah diupayakan. Meski pembangunan awal cukup mahal, ke depan itu pemeliharaannya lebih ringan,” ujarnya.

Biaya pembangunan awal yang relatif tinggi dan keterbatasan lahan menjadi tantangan tersendiri.

Karena itu, diperlukan strategi yang dapat menyesuaikan penerapan bangunan hijau dengan kondisi dan kemampuan di lapangan.

DPUPKP Sleman Gandeng GBCI

Usai pelaksanaan IGBF, DPUPKP Sleman berencana melanjutkan komunikasi dengan Green Building Council Indonesia (GBCI).

Pembahasan akan diarahkan pada langkah konkret penerapan bangunan gedung hijau, terutama di lingkungan pemerintahan.

Selain aspek teknis, pembahasan juga akan mencakup solusi terhadap persoalan pembiayaan dan kondisi lahan.

“Apalagi mengingat suhu udara luar itu sangat ekstrem. Kami akan diskusikan supaya bangunan hijau ini terwujud,” kata Sukarmin.

Head of Representative GBCI Yogyakarta Daud Tjondrorahardja menambahkan, standar pembangunan saat ini tidak cukup hanya mengutamakan kekuatan dan tampilan bangunan.

Menurutnya, sebuah bangunan juga harus mampu menghemat penggunaan energi dan air serta menekan dampak negatif terhadap lingkungan.

“Bangunan hijau tidak boleh berhenti pada gambar desain, dokumen, atau sertifikat, tapi harus hidup dan menjadi kinerja nyata,” tegasnya.

Melalui IGBF 2026, penerapan konsep tersebut diharapkan terus berlanjut setelah festival berakhir.

Tantangan selanjutnya adalah memastikan prinsip bangunan hijau benar-benar diterapkan secara bertahap pada bangunan pemerintah maupun rumah tinggal di Sleman. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:A. Tulung
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Bantul, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.