Pemkot Yogyakarta kebanjiran pemesanan bibit pisang. (FOTO: Pemkot Yogyakarta for TIMES Indonesia)

Bibit Pisang Laris Manis, Pemkot Yogyakarta Genjot Kultur Jaringan demi Penuhi Permintaan

Selain meningkatkan kapasitas produksi bibit unggul, Pemkot Yogyakarta juga terus menata kawasan Kebun Plasma Nutfah Pisang

TIMES Bantul,Kamis 9 Juli 2026, 06:52 WIB
184
S
Soni Haryono

JOGJATingginya permintaan bibit pisang dari berbagai daerah di Indonesia mendorong Pemerintah Kota Yogyakarta (Pemkot Yogyakarta) untuk terus memperkuat pengembangan bibit melalui teknologi kultur jaringan. 

Melalui Dinas Pertanian dan Pangan, Pemkot memilih memprioritaskan produksi bibit pisang dibandingkan tanaman lain karena dinilai memiliki prospek yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Selain meningkatkan kapasitas produksi bibit unggul, Pemkot Yogyakarta juga terus menata kawasan Kebun Plasma Nutfah Pisang agar tidak hanya berfungsi sebagai pusat konservasi, tetapi juga menjadi kawasan edukasi dan destinasi wisata berbasis pertanian.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sukidi, mengatakan permintaan bibit pisang masih mendominasi dibandingkan komoditas tanaman lainnya.

Dalam satu tahun, permintaan bibit dari Kebun Plasma Nutfah Pisang Yogyakarta berkisar antara 11.000 hingga 15.000 bibit.

Menurutnya, laboratorium kultur jaringan milik Pemkot sebenarnya telah mengembangkan sejumlah tanaman lain seperti anggrek, aglaonema, keladi, hingga kantong semar. Namun minat masyarakat terhadap tanaman-tanaman tersebut tidak sebesar permintaan bibit pisang.

"Kami masih memprioritaskan pisang karena permintaan masyarakat memang sangat tinggi. Terutama varietas tertentu seperti pisang Raja yang hingga sekarang masih menjadi favorit," ujar Sukidi, Kamis (9/7/2026).

Pisang Raja hingga Kepok Jadi Primadona

Kebun Plasma Nutfah Pisang Yogyakarta saat ini menjadi salah satu pusat konservasi pisang terbesar yang dimiliki pemerintah daerah.

Di lahan seluas kurang lebih 2 hektare, terdapat sekitar 333 kultivar atau jenis pisang yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia bahkan beberapa negara.

Beragam koleksi tersebut meliputi Pisang Raja, Ambon, Kepok, Mas Raja, Sangga Buwana, Klutuk, Genderuwo, Lase, Morosebo, Jarum, Potho, Tanduk hingga Cavendish.

Meski menyimpan ratusan varietas, tidak semuanya diproduksi secara massal. Dinas Pertanian dan Pangan hanya memperbanyak jenis-jenis pisang yang memiliki permintaan pasar paling tinggi.

Sukidi menjelaskan beberapa varietas yang paling banyak diminati masyarakat antara lain Raja Bagus, Raja Talun, Kepok Merah, Kepok Putih, Ambon Lumut, dan Ambon Amerika.

Varietas-varietas tersebut diproduksi melalui metode kultur jaringan sehingga menghasilkan bibit dalam jumlah besar dengan kualitas yang seragam.

"Kami memproduksi jenis yang memang paling sering dicari masyarakat. Jadi selain menjaga koleksi, kami juga menyesuaikan kebutuhan pasar," katanya.

Kebun Plasma Nutfah, Benteng Pelestarian Pisang Nusantara

Menurut Sukidi, fungsi utama Kebun Plasma Nutfah Pisang bukan sekadar memproduksi bibit, tetapi juga menjaga keberadaan berbagai varietas pisang agar tidak punah.

Berbagai jenis pisang dari pelosok Nusantara dikumpulkan, ditanam, dan dipelihara sebagai bentuk pelestarian sumber daya genetik tanaman.

Pada masa awal pembentukannya, koleksi tersebut diperoleh melalui pencarian langsung ke berbagai daerah di Indonesia sebelum akhirnya dikembangkan di Yogyakarta.

Namun di tengah kebijakan efisiensi anggaran, pemerintah belum berencana menambah koleksi varietas baru. Fokus saat ini diarahkan pada pemeliharaan koleksi yang sudah ada sekaligus meningkatkan kualitas produksi bibit unggulan.

Teknologi Kultur Jaringan, Andalan Produksi Bibit Unggul

Salah satu kekuatan utama Kebun Plasma Nutfah Pisang adalah penggunaan teknologi kultur jaringan dalam memperbanyak bibit.

Teknik ini dilakukan dengan mengambil bagian kecil jaringan tanaman, kemudian dikembangkan pada media steril di laboratorium hingga menjadi bibit baru.

Metode tersebut memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan perbanyakan secara konvensional.

Bibit yang dihasilkan memiliki sifat yang seragam, jumlah produksi jauh lebih banyak, pertumbuhan lebih cepat, serta bebas dari hama maupun penyakit yang kerap menyerang tanaman induk.

Dengan teknologi tersebut, Pemkot Yogyakarta mampu menjaga kualitas bibit sekaligus memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.

Sukidi mengungkapkan tren permintaan bibit pisang setiap tahun terus mengalami peningkatan meski pertumbuhannya berlangsung secara bertahap.

Tidak hanya berasal dari wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, permintaan justru lebih banyak datang dari luar daerah. Beberapa provinsi yang rutin memesan bibit pisang antara lain Jawa Timur, Lampung, hingga Kalimantan.

Hingga saat ini, kapasitas produksi laboratorium kultur jaringan masih mampu memenuhi kebutuhan tersebut.

Bahkan Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta juga menjalin kerja sama dengan Kementerian Pertanian dalam penyediaan bibit pisang untuk berbagai daerah di Indonesia.

"Permintaan terus meningkat setiap tahun. Yang paling banyak justru dari Jawa Timur, disusul Lampung dan Kalimantan. Untuk saat ini kapasitas laboratorium kami masih mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Kami juga bekerja sama dengan Kementerian Pertanian untuk penyediaan bibit pisang ke berbagai wilayah Indonesia," jelas Sukidi.

Danais Digunakan Percantik Kebun hingga Tambah Fasilitas Lab

Selain meningkatkan produksi bibit, Pemkot Yogyakarta juga tengah melakukan penataan kawasan Kebun Plasma Nutfah Pisang agar semakin representatif.

Melalui dukungan Dana Keistimewaan (Danais) DIY, pemerintah membangun pos jaga dan sekretariat bagi para pekerja yang bertugas di kawasan kebun.

Meski nilai anggaran mengalami penyesuaian dari semula Rp2,5 miliar menjadi sekitar Rp1 miliar, pembangunan tetap berjalan sesuai rencana.

Dana tersebut juga dimanfaatkan untuk mempercantik wajah kawasan kebun sehingga lebih menarik bagi masyarakat.

Ke depan, kawasan ini tidak hanya menjadi pusat konservasi dan produksi bibit, tetapi juga dikembangkan sebagai ruang edukasi pertanian dengan berbagai spot foto yang ramah pengunjung.

Selain itu, pemerintah turut mengadakan alat autoclave, yakni perangkat sterilisasi media tanam yang menjadi bagian penting dalam proses kultur jaringan agar produksi bibit tetap berkualitas tinggi.

Melalui penguatan teknologi, konservasi plasma nutfah serta peningkatan fasilitas pendukung, Pemerintah Kota Yogyakarta berharap Kebun Plasma Nutfah Pisang dapat terus menjadi pusat pengembangan bibit pisang unggul sekaligus benteng pelestarian kekayaan varietas pisang Indonesia yang manfaatnya dirasakan masyarakat di berbagai daerah. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Soni Haryono
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Bantul, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.