Bukan Sekadar Makan Gratis, Program MBG Jadi Penggerak Ekonomi Rakyat
Tidak hanya menjadi upaya pemerintah dalam memperbaiki kualitas gizi anak-anak Indonesia, program ini juga mulai dirasakan sebagai penggerak roda ekonomi rakyat.
YOGYAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai membawa dampak lebih luas bagi masyarakat.
Tidak hanya menjadi upaya pemerintah dalam memperbaiki kualitas gizi anak-anak Indonesia, program ini juga mulai dirasakan sebagai penggerak roda ekonomi rakyat melalui keterlibatan pelaku UMKM, petani, pedagang pasar, hingga pekerja dapur penyedia makanan.
Bagi sebagian keluarga, kehadiran MBG menjadi dukungan nyata dalam memenuhi kebutuhan pangan bergizi bagi anak-anak. Program ini dianggap membantu meringankan beban orang tua sekaligus memastikan anak mendapatkan asupan makanan yang lebih baik secara rutin.
“Dengan adanya MBG, orang tua sangat terbantu karena anak-anak mendapatkan makanan bergizi dari pemerintah. Ini sangat membantu, terutama bagi keluarga yang ingin memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi,” ujar Dena, warga Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Selasa (23/6/2026).
Menurutnya, manfaat MBG tidak berhenti pada penerima makanan saja. Program tersebut juga menciptakan efek ekonomi berantai karena kebutuhan bahan pangan untuk dapur MBG membuka peluang bagi banyak sektor masyarakat.
Mulai dari kebutuhan beras, sayuran, buah-buahan, telur, daging, hingga bahan pangan lainnya membuat aktivitas ekonomi di tingkat bawah ikut bergerak. Petani mendapat pasar baru, pedagang memperoleh permintaan tambahan, sementara UMKM kuliner dan tenaga kerja dapur mendapatkan peluang usaha.
“MBG bukan hanya soal memberikan makanan gratis. Program ini juga menghidupkan banyak usaha kecil karena ada kebutuhan besar untuk penyediaan makanan setiap harinya,” katanya.
MBG Dorong Perputaran Ekonomi dari Tingkat Masyarakat
Sejumlah masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), termasuk relawan, pekerja dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), orang tua siswa, dan pelaku usaha pangan berharap program MBG terus berlanjut dengan sistem pelaksanaan yang semakin baik.
Mereka menilai MBG telah menjadi program yang memiliki dampak sosial dan ekonomi secara bersamaan. Selain membantu meningkatkan kualitas kesehatan anak, program ini juga menciptakan lapangan aktivitas ekonomi baru bagi masyarakat.
Namun, sejumlah relawan dapur SPPG menyampaikan perhatian terkait kebijakan penghentian sementara operasional dapur MBG selama masa libur sekolah berdasarkan Surat Edaran (SE) Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nomor 12 Tahun 2026 tertanggal 17 Juni 2026.
Menurut mereka, kebijakan tersebut perlu dikaji kembali karena di beberapa daerah jadwal libur sekolah baru dimulai pada 26 Juni 2026, bukan 22 Juni 2026 termasuk di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Penghentian lebih awal dinilai memberikan dampak bagi relawan dapur SPPG maupun masyarakat yang bergantung pada aktivitas program tersebut.
Pedagang Pangan Ikut Merasakan Dampaknya
Tidak hanya relawan, pelaku usaha pangan juga merasakan perubahan ketika operasional dapur MBG berhenti sementara. Salah satunya pedagang sayuran yang mengalami penurunan permintaan.
Putri, pedagang sayuran di Pasar Giwangan, Kota Yogyakarta, mengungkapkan bahwa kebutuhan dapur MBG selama ini ikut membantu meningkatkan penjualan pedagang kecil.
“Penjualan sayuran dan buah-buahan ikut turun karena dapur MBG tidak belanja seperti biasanya. Banyak pedagang kecil yang terdampak ketika aktivitas pembelian berkurang,” ujarnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan MBG tidak hanya berdampak pada sektor pendidikan dan kesehatan, tetapi juga memiliki peran dalam menjaga aktivitas ekonomi masyarakat kecil.
Harapan Agar MBG Berkelanjutan dan Semakin Baik
Masyarakat berharap pemerintah terus menjaga keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis dengan memperkuat tata kelola, memastikan distribusi berjalan efektif, serta memberikan kepastian bagi seluruh pihak yang terlibat.
Relawan dan masyarakat menilai MBG telah menjadi harapan baru bagi banyak keluarga. Anak-anak mendapatkan dukungan nutrisi yang lebih baik, sementara masyarakat memperoleh peluang ekonomi melalui rantai penyediaan makanan.
“MBG sudah menjadi program yang manfaatnya dirasakan banyak pihak. Anak-anak mendapatkan makanan bergizi, sementara masyarakat juga ikut mendapatkan peluang ekonomi,” ujar Yetty.
Bagi masyarakat, MBG bukan hanya tentang makanan gratis. Program ini dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk mencetak generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan produktif, sekaligus menjadi salah satu penggerak ekonomi rakyat dari tingkat paling bawah.
Dengan pengelolaan yang tepat dan berkelanjutan, MBG berpotensi menjadi program strategis yang menyatukan misi peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan penguatan ekonomi masyarakat. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

